Materi
Selamat malam teman-teman,
Perkenalkan, saya Lishia PS Jawa Tengah area SOLO.
Terima kasih untuk Teteh, Mba Endah, Mba Chelsy, Mas Bimasena, dan teman-teman semua yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk sharing mengenai perjalanan Pusen di area Solo.
Awalnya, pada bulan mendekati acara UAA (Urological Association of Asia) di Bali, saya membagikan brosur dan menawarkan kepada dokter-dokter urologi untuk dapat mengikuti workshop Pusen. Dari DSM (District Sales Manager), saya diinformasikan untuk mengajak dokter-dokter urologi agar bisa datang dan mendaftar workshop Pusen.
Dari situ saya melihat bahwa beberapa dokter memang sudah familiar dengan produk Pusen yang sebelumnya pernah digunakan oleh beberapa dokter urologi. Salah satu dokter tersebut adalah dr. Andhika, Sp.U, yang praktik di RSUD Surakarta. Beliau bersedia mendaftar dan mengikuti workshop Pusen di Bali.
Setelah acara UAA, saya melakukan follow up kembali ke dr. Andhika, Sp.U untuk meminta bantuan penggunaan produk Pusen, dan beliau setuju untuk dilakukan demo. Beliau juga mengarahkan saya untuk bertemu dengan seniornya, dr. Octo, Sp.U. Saya mengikuti arahan tersebut dan akhirnya dr. Octo, Sp.U dan dr. Andhika, Sp.U bersedia dilakukan demo Pusen.
Setelah demo selesai, saya kembali melakukan follow up terkait kemungkinan Pusen dipakai di RSUD Surakarta. Dr. Octo dan dr. Andhika setuju untuk mengajukan Pusen karena dinilai memiliki nilai plus, yaitu adanya fitur suction. Di RSUD tersebut sebelumnya sudah ada merek Redpine, dengan harga di bawah Pusen, sekitar 11 jutaan.
Selanjutnya, saya mengajukan penawaran ke manajemen dengan dibantu surat permintaan dari IBS. Kendala awal Pusen adalah lifetime-nya yang hanya 4 jam dibandingkan Redpine. Namun setelah dirundingkan, dr. Octo dan dr. Andhika setuju jika Pusen dipakai oleh 3 dokter urologi, sedangkan Redpine digunakan oleh para residen.
Setelah itu, saya menemui manajemen dengan membawa surat permintaan dari dr. Octo dan penawaran Pusen. Pihak manajemen awalnya mengecek harga karena Pusen jauh lebih mahal dibandingkan Redpine. Saya kemudian meminta bantuan dr. Andhika untuk meyakinkan manajemen agar bisa melakukan order Pusen.
Akhirnya, pihak manajemen langsung menelpon dr. Octo dan dr. Andhika untuk menanyakan sistem pemakaian Pusen. Dr. Octo memberikan arahan bahwa Pusen digunakan oleh dokter-dokter urologi, sedangkan Redpine digunakan oleh residen.
Yang kedua adalah di RSUD Moewardi. Dari event UAA, banyak dokter urologi dari RSUD Moewardi yang hadir dan bertemu dengan bos-bos kita, di antaranya dr. Suharto, Sp.U, dr. Ali, Sp.U, dan dr. Agung, Sp.U. Setelah UAA, saya diminta untuk follow up ke dokter-dokter urologi di RSUD Moewardi.
Di RSUD Moewardi, untuk memasukkan produk memang banyak lika-likunya. Prosesnya memakan waktu sekitar 3 bulan, dimulai dari penawaran, presentasi, demo, hingga mengejar manajemen agar produk bisa disediakan. Di RSUD besar, kita harus tahu siapa dokter yang mengerjakan RIRS, karena beliaulah yang harus kita kejar.
Dari KSM, saya diminta untuk follow up dan mengejar dr. Ali, Sp.U. Namun dr. Ali meminta agar Teteh yang melakukan follow up ke beliau. Akhirnya saya dan Mba Endah meminta bantuan Teteh untuk follow up ke dr. Ali.
Sebelumnya, alat yang digunakan di RSUD Moewardi adalah Storz dengan lifetime 10 jam. Namun karena pendekatan yang intens ke dokter-dokternya, akhirnya Pusen yang digunakan di RSUD Moewardi.
Jadi, seperti kata DSM saya, kita harus dekat terlebih dahulu dengan para user agar kita bisa menjadi prioritas.
Sekian sharing dari saya. Terima kasih teman-teman. Jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaklumi. Semoga sukses jualan Pusennya