Materi
Assalamu’alaikum.
Selamat malam Teteh, Mba Endah, Mba Chelsy, Mba Dewi, Mas Arthur, dan teman-teman seperjuangan. Terima kasih atas waktunya pada malam ini. Saya Edi dari area Jakarta mendapat kesempatan untuk sharing mengenai Pusen.
Untuk sharing Pusen kali ini, kurang lebih tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya sudah disampaikan oleh Mas Olop, Mba Lishia, Mba Anit, dan Mas Dwi.
Awal saya mengerjakan Pusen dimulai dari adanya event UAA di Bali, dengan menginformasikan kepada dokter-dokter urologi terkait event tersebut. Saya mengerjakan Pusen di dua kategori RS pertama, yaitu RS Pemerintah dan RS Swasta.
RS Pemerintah
Saya memulai dengan memperkenalkan diri kepada dokter Sp.U. Jika belum bisa bertemu langsung di poli, saya menggali informasi melalui perawat poli atau perawat OK, khususnya yang sering ikut tindakan RIRS. Setelah bertemu dokter, saya menawarkan demo alat. Terkadang dari pihak user/dokter demo diminta langsung digunakan ke pasien.
Contohnya:
- RSUD Pasar Minggu dengan dr. Siddhi Sp.U
- RSUI dengan dr. Dyandra Parikesit Sp.U dan tim
- RSUD Pasar Rebo yang baru mendapatkan jadwal demo pada 5 Juni
Adapun kendala yang saya hadapi di RS Pemerintah adalah plafon tindakan RIRS yang tidak masuk, karena sebagian besar pasien adalah BPJS. Saya mengatasinya dengan memberikan masukan harga paket scope URS 15 free monitor, sehingga pembelian dilakukan sekaligus dan saat itu dokter bersedia.
Namun, muncul kendala lain yaitu adanya program efisiensi di RS Pemerintah, di mana beberapa anggaran dipangkas sehingga PO belum bisa terbit. Untuk mengatasinya, saya mengarahkan user/dokter—terutama yang sudah merasa puas dan ingin menggunakan Pusen karena kualitas gambar yang jelas serta adanya fitur suction—agar menggunakan Pusen di RS swasta tempat mereka praktik. Hingga saat ini proses tersebut masih saya follow up.
RS Swasta
Untuk RS swasta, proses juga diawali dengan demo. Sebelum demo, biasanya pihak RS meminta izin melalui Purchasing, dengan persyaratan seperti:
- Nama dokter yang akan menggunakan
- Brosur
- Harga
- AKL
- Populasi
Hal ini saya alami di RS Pondok Indah. Pada awal masuk, saya belum bisa bertemu langsung dengan dr. Hery Sp.U dan dr. Doddy Sp.U, sehingga saya terlebih dahulu berkoordinasi dengan perawat OK khusus urologi, yaitu Pak Tyo, untuk menggali informasi sedetail mungkin, seperti dokter yang sering mengerjakan RIRS, karakter dokter, serta waktu yang tepat untuk ditemui.
Kendala lain yang muncul adalah adanya kompetitor dengan harga di bawah Pusen, seperti Redphine, yang sudah lama digunakan oleh RS. Saya mengatasinya dengan menawarkan demo terlebih dahulu, melakukan follow up secara rutin, serta bekerja sama dengan tim, khususnya Mba Endah yang selalu siap membantu 🙏🏻.
Setelah demo berjalan dan RS memberikan PO, sempat muncul kendala dari unit Pusen, di mana saat digunakan lampu mati sehingga gambar tidak muncul. Saya mengatasinya dengan langsung mengganti unit menggunakan barang backup yang selalu saya bawa. Saya menampung semua respon dan keluhan dengan baik, siap menerima masukan, dan segera menyampaikannya ke tim. Yang terpenting adalah respon cepat dan kesiapan backup.
Untuk hasilnya, Alhamdulillah:
- RS Pondok Indah: 37 pcs
- RS Siloam Asri: 11 pcs
- RS Medistra: 2 pcs
Total sementara 3 RS swasta sudah menggunakan 50 pcs 🙏🏻.
Saat ini saya masih mengerjakan beberapa RS lainnya dengan harapan bisa segera menggunakan Pusen. Demikian sharing yang dapat saya sampaikan. Semoga informasi ini bisa menjadi pelajaran bagi saya pribadi untuk lebih giat dan lebih baik ke depannya, serta bermanfaat bagi teman-teman seperjuangan yang sedang mengerjakan Pusen. Semoga PO Pusen ke depannya bisa semakin banyak.
Mohon maaf apabila masih ada kekurangan dalam apa yang saya kerjakan.
Wassalamu’alaikum