Materi
Selamat malam bestie-bestie semua 😊
Terima kasih Bapak, Ibu, Teteh, Pak Decky, Mbak Lili, tim HO, tim marketing, serta teman-teman semua atas kesempatan yang diberikan untuk sharing mengenai “Service Excellence”.
Sebelumnya, saya bergabung di PHI sejak tahun 2015, bersama partner setia saya Kak Dwi Mastuti di tim Solo.
Dalam dunia sales, selain keunggulan produk yang kita miliki, saya juga merasa memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan terbaik demi kepuasan customer. Dalam hal ini, saya menerapkan konsep “A4” dalam memberikan pelayanan kepada customer, yaitu:
1. Attitude (Sikap)
Sikap ramah, supel, dan sopan sangat diperlukan dalam menghadapi customer. Saya harus bisa menyesuaikan diri dengan karakter user. Saat interaksi, kalau suasananya santai, ya kita ikuti santai saja, sambil menyelipkan informasi produk dan case-case terbaru yang biasa saya dapatkan dari teman-teman.
2. Ability (Kemampuan)
Kemampuan dalam memahami produk, memanage waktu, menentukan skala prioritas, serta mengelola stok. Termasuk juga kemampuan dalam menyelesaikan masalah, di mana kita selalu ada saat dibutuhkan (fast response). Saya berusaha mandiri, tetapi jika tidak mampu, saya tidak ragu mengangkat HP untuk merepotkan yang lain, baik itu tim marketing, Pak Decky, Om Adit, Mbak Dwi, bahkan teman-teman di cabang.
3. Attention (Perhatian)
Saya harus memahami kebutuhan customer. Hal ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, misalnya mengucapkan selamat ulang tahun, atau sekadar ngobrol santai sambil ngopi. Tidak harus selalu membahas produk, karena user juga perlu refresh dari rutinitas kerja sehari-hari.
4. Action (Tindakan)
Menunjukkan profesionalisme dalam bekerja dengan selalu on time, berpenampilan rapi, serta menerapkan sikap jujur agar mendapatkan kepercayaan user. Tindakan nyata juga terlihat saat pendampingan operasi, di mana kita harus tahu apa yang dibutuhkan user dan bagaimana cara meresponsnya. Termasuk juga jika user hanya butuh teman ngopi, kita siap gas.
Dalam melayani user, saya selalu berusaha semaksimal mungkin dan tetap mengupayakan apa pun yang bisa saya lakukan. Saya jarang sekali menolak, karena di sana ada pasien yang sedang membutuhkan alat kita. Bagi saya, posisi ditolak itu rasanya menyakitkan .
Dalam pemesanan alat, saya tidak akan langsung menolak ketika ada kendala. Saya pasti menjawab, “Saya usahakan dulu, Dok.” Jika dalam kondisi kepepet terkait ketersediaan alat, kita bisa berkomunikasi dengan tim dari daerah lain. Seperti yang pernah saya lakukan, PP Surabaya–Solo atau Jogja–Solo di malam hari untuk meminjam alat dengan waktu yang sangat mepet. Jam 2 pagi baru sampai Jogja untuk ambil alat, merepotkan teman-teman cabang, jam 3 pagi langsung balik lagi, lalu alat langsung saya masukkan untuk proses steril.
Capek? Tentu
Namun saya jalani dengan ikhlas, karena saya percaya itu adalah jalan rezeki sekaligus ibadah. Melayani dengan sepenuh hati, mengusahakan yang terbaik untuk dokter dan juga pasien. Nikmati prosesnya, nikmati hasilnya. Pencapaian yang indah-indah saya bagikan, sementara proses jatuh bangunnya saya bungkus pakai kresek saja.
Demikian sharing dari saya. Kurang lebihnya saya mohon maaf
Terima kasih untuk tim Surabaya, Jogja, dan Semarang yang sering saya repotkan untuk pinjam alat di malam hari hingga dini hari.