Materi
Assalamu’alaikum,
Selamat malam rekan–rekan PHI.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Pada sesi malam ini, saya diberikan kesempatan untuk berbagi mengenai tema “Mengembangkan Tim yang Efektif: Mengatasi Keterbatasan Kemampuan Individual di Lapangan.” Sedikit kilas balik, perjalanan saya dimulai pada tahun 2013 ketika saya masih menjadi PS Allied Jabar. Saat itu saya fokus mempelajari dan mengenali area terlebih dahulu. Satu tahun kemudian, saya sudah diminta oleh NSM untuk mulai mengembangkan area Jabar, padahal insentif pun belum sempat saya nikmati sendirian. Sayang juga sebenarnya… tapi ya sudah, itu bagian dari proses. 😄✌🏻
Dengan bertambahnya PS dua orang serta pembentukan divisi Althea, perjalanan empat tahun berikutnya penuh dengan tantangan, drama, dan turnover yang cukup tinggi. Pada periode 2013–2017 itulah saya menyusun blueprint area dan pola/flowchart project yang sekarang kita kenal sebagai “Alur Pengadaan RS.”
Hal-hal yang saya lakukan pada masa penyusunan pola tersebut antara lain:
- Menyelesaikan seluruh pekerjaan administrasi.
- Melakukan survei area.
- Memperkenalkan diri dan membangun relasi menyeluruh, mulai dari user, IPSRS, hingga manajemen (seperti pernah disampaikan Mas Adit Jogja).
- Rutin mengikuti event, terutama Ikatemi.
Empat tahun memang bukan waktu singkat. Namun ternyata, setelah pola tersebut diterapkan kepada tim, hasilnya sangat efektif—terutama bagi PS baru, yang umumnya sesuai tema malam ini, memiliki keterbatasan individual di lapangan. Kadang memang membuat kepala pusing… konsumsi amlodipine sudah jadi teman sejati.
Tetapi dengan pola yang sudah jelas, siapapun PS-nya—baru atau lama—tinggal mengikuti alurnya. Kadang memang terasa seperti robot, tapi inilah proses yang diperlukan. Yang terpenting adalah teamwork, komunikasi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, serta kesabaran seorang leader dalam menghadapi berbagai keterbatasan tim.
Beberapa Contoh Pengalaman di Lapangan
- Alda
Alda tidak memiliki latar belakang farmasi maupun alkes, jadi istilah-istilah medis tentu membingungkan—apalagi saat harus berbicara dengan user. Mengajarkan Alda itu seperti tune up RX-King: kalau servisnya bagus, motornya kencang; kalau tidak, ya harus ganti mesin. Setiap kali berbicara dengan user, saya bantu ketikkan script handling objection melalui WhatsApp agar bisa dibacakan langsung. Lama-lama terbiasa, bisa ngobrol, probing sedikit, dan mulai paham alurnya. Produk knowledge pun bertahap naik, dan yang penting bisa bekerja dan menghasilkan. Sekarang? Sudah bisa nagih PO dan bahkan sudah melanglang buana sampai Italia.
- Avi
Avi sebelumnya bekerja sebagai admin di PT Sandoz. Saat masuk divisi Althea tentu bingung sekali. Saya minta Avi keliling Cirebon untuk mencatat semua plang praktik dokter estetik. Saking semangatnya, plang notaris pun ikut tercatat. Mulai dari cara mengetuk pintu praktik, cara berbicara, semuanya dibimbing. Alhamdulillah, hasilnya terlihat—dari Cirebon kini sudah sampai Eropa.
- Eva Surevah
Ini yang paling kreatif dalam konten, tapi proses pemahamannya… ibarat komputer masih Pentium 1. Saya harus menjelaskan satu kalimat demi satu kalimat, kadang dengan perumpamaan agar lebih mudah dicerna. Alhamdulillah, sekarang sudah jauh lebih paham mengenai produk dan alur kerja, meskipun tetap harus sering diingatkan. Minimal RAM-nya sudah naik jadi Pentium 1.5.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Jika melihat cerita-cerita tadi, memang terlihat melelahkan. Tidak heran saya harus selalu stok amlodipine dan alprazolam.
Namun di balik semuanya, ada pelajaran penting:
Menjadi seorang leader bukan hanya tentang mencari sales atau memastikan target tercapai.
Seorang leader harus dewasa, sabar, dan memahami kekurangan tim, serta mampu membimbing mereka sampai berkembang dan menghasilkan performa terbaik.
Berat? Tentu. Tapi saya bangga dan sayang dengan “Kabayans”—teman-teman yang sudah berjuang bersama dalam suka dan duka.
Semangat terus, dan mari kita tetap berjuang bersama!
Demikian sharing dari saya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.