Sharing Session

Mengembangkan Team yang Efektif “Mengatasi Keterbatasan kemampuan Individual di Lapangan

21 Feb 2025
Ganjar Rachmattuloh Ganjar Rachmattuloh

Materi

Assalamu’alaikum,

Selamat malam rekan–rekan PHI.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Pada sesi malam ini, saya diberikan kesempatan untuk berbagi mengenai tema “Mengembangkan Tim yang Efektif: Mengatasi Keterbatasan Kemampuan Individual di Lapangan.” Sedikit kilas balik, perjalanan saya dimulai pada tahun 2013 ketika saya masih menjadi PS Allied Jabar. Saat itu saya fokus mempelajari dan mengenali area terlebih dahulu. Satu tahun kemudian, saya sudah diminta oleh NSM untuk mulai mengembangkan area Jabar, padahal insentif pun belum sempat saya nikmati sendirian. Sayang juga sebenarnya… tapi ya sudah, itu bagian dari proses. 😄✌🏻

Dengan bertambahnya PS dua orang serta pembentukan divisi Althea, perjalanan empat tahun berikutnya penuh dengan tantangan, drama, dan turnover yang cukup tinggi. Pada periode 2013–2017 itulah saya menyusun blueprint area dan pola/flowchart project yang sekarang kita kenal sebagai “Alur Pengadaan RS.”

Hal-hal yang saya lakukan pada masa penyusunan pola tersebut antara lain:

  1. Menyelesaikan seluruh pekerjaan administrasi.
  2. Melakukan survei area.
  3. Memperkenalkan diri dan membangun relasi menyeluruh, mulai dari user, IPSRS, hingga manajemen (seperti pernah disampaikan Mas Adit Jogja).
  4. Rutin mengikuti event, terutama Ikatemi.

 

Empat tahun memang bukan waktu singkat. Namun ternyata, setelah pola tersebut diterapkan kepada tim, hasilnya sangat efektif—terutama bagi PS baru, yang umumnya sesuai tema malam ini, memiliki keterbatasan individual di lapangan. Kadang memang membuat kepala pusing… konsumsi amlodipine sudah jadi teman sejati. 

Tetapi dengan pola yang sudah jelas, siapapun PS-nya—baru atau lama—tinggal mengikuti alurnya. Kadang memang terasa seperti robot, tapi inilah proses yang diperlukan. Yang terpenting adalah teamwork, komunikasi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, serta kesabaran seorang leader dalam menghadapi berbagai keterbatasan tim.

Beberapa Contoh Pengalaman di Lapangan

  1. Alda

Alda tidak memiliki latar belakang farmasi maupun alkes, jadi istilah-istilah medis tentu membingungkan—apalagi saat harus berbicara dengan user. Mengajarkan Alda itu seperti tune up RX-King: kalau servisnya bagus, motornya kencang; kalau tidak, ya harus ganti mesin. Setiap kali berbicara dengan user, saya bantu ketikkan script handling objection melalui WhatsApp agar bisa dibacakan langsung. Lama-lama terbiasa, bisa ngobrol, probing sedikit, dan mulai paham alurnya. Produk knowledge pun bertahap naik, dan yang penting bisa bekerja dan menghasilkan. Sekarang? Sudah bisa nagih PO dan bahkan sudah melanglang buana sampai Italia. 

  1. Avi

Avi sebelumnya bekerja sebagai admin di PT Sandoz. Saat masuk divisi Althea tentu bingung sekali. Saya minta Avi keliling Cirebon untuk mencatat semua plang praktik dokter estetik. Saking semangatnya, plang notaris pun ikut tercatat. Mulai dari cara mengetuk pintu praktik, cara berbicara, semuanya dibimbing. Alhamdulillah, hasilnya terlihat—dari Cirebon kini sudah sampai Eropa. 

  1. Eva Surevah

Ini yang paling kreatif dalam konten, tapi proses pemahamannya… ibarat komputer masih Pentium 1. Saya harus menjelaskan satu kalimat demi satu kalimat, kadang dengan perumpamaan agar lebih mudah dicerna. Alhamdulillah, sekarang sudah jauh lebih paham mengenai produk dan alur kerja, meskipun tetap harus sering diingatkan. Minimal RAM-nya sudah naik jadi Pentium 1.5. 

 

Pelajaran yang Dapat Diambil

Jika melihat cerita-cerita tadi, memang terlihat melelahkan. Tidak heran saya harus selalu stok amlodipine dan alprazolam. 

Namun di balik semuanya, ada pelajaran penting:

Menjadi seorang leader bukan hanya tentang mencari sales atau memastikan target tercapai.

Seorang leader harus dewasa, sabar, dan memahami kekurangan tim, serta mampu membimbing mereka sampai berkembang dan menghasilkan performa terbaik.

Berat? Tentu. Tapi saya bangga dan sayang dengan “Kabayans”—teman-teman yang sudah berjuang bersama dalam suka dan duka.

Semangat terus, dan mari kita tetap berjuang bersama! 

Demikian sharing dari saya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih. 

Edited by Tim IT - PHI Updated 5 days ago

QnA Sesi

Keyakinan bahwa setiap orang pasti ingin maju, apalagi kalau urusan uang, pasti semua mau. Hanya saja, setiap PS punya moment masing-masing buat nunjukin potensi. Bisa dilihat dari gaya komunikasi, penampilan, atau respon saat di-probing. Nah, moment itu harus dimanfaatkan.

Meskipun ibaratnya team kayak Pentium 1 (prosesor lama), tetap masih bisa dipakai buat kerja ngetik WS, Lotus, dsb. Artinya, tidak perlu disamakan kecepatannya, tapi manfaatkan kemampuannya semaksimal mungkin sesuai porsi. Yang penting konsisten support, arahkan, dan sabar dalam treatment-nya.

Hadapi dengan komunikasi positif. Berani bicara, tapi dalam bentuk saran membangun. Bisa dengan menuliskan masukan di kertas, agar atasan bisa introspeksi tanpa merasa diserang secara langsung.

Buka ruang diskusi. Sampaikan bahwa bekerja bersama bisa lebih efektif. Dengan cara yang sopan dan positif, tunjukkan manfaat kolaborasi agar atasan mau berbagi porsi kerja.

Dorong dengan cara minta diajari secara perlahan. Tawarkan format belajar santai, misal mentoring ringan, agar transfer ilmu terasa natural tanpa membebani.

Tidak ada cara instan. Harus dimulai dengan membuat blueprint area dan menguasai area knowledge terlebih dahulu. Kalau fondasinya kuat, siapa pun anggota timnya, pasti akan lebih cepat bergerak.

Pilih tim yang lemot tapi mau belajar. Sikap mau belajar lebih penting untuk jangka panjang dibandingkan skill tanpa kolaborasi.

Noted

-
Kembali