Materi
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum, selamat malam rekan-rekan dan para senior.
Malam ini saya mendapat giliran untuk berbagi pengalaman dengan tema “Aku Bukanlah Superman, Tetapi Seorang Manajer Yang Membimbing Kesuksesan Tim.”
Saya ingin menceritakan kembali awal mula perjalanan saya. Saya pertama kali menjadi DSC (District Sales Coordinator) pada tahun 2013 di Divisi Althea — divisi yang sekarang sudah dilebur. Saat itu saya membawahi 3 PS (Product Specialist) serta 4 produk untuk seluruh Jakarta. Produk yang saya tangani adalah produk kecantikan, dengan pengguna utama dokter umum, dokter kecantikan, dan sebagian dokter bedah plastik yang memiliki klinik pribadi.
Namun, saya tidak lama menjadi DSC Althea. Kurang dari setahun, tepatnya Desember 2013, saya mengalami demosi dan kembali menjadi PS Axelia, karena pencapaian saya belum sesuai harapan HO (Head Office). Selain itu, pemilihan PS di awal juga kurang tepat karena saya terburu-buru untuk mengisi tim, dan akhirnya hal itu berpengaruh pada kinerja saya.
Tentu saja saya merasa sedih dan kecewa, namun dari peristiwa itu saya mendapat pelajaran berharga: setiap proses membutuhkan waktu, tidak ada yang instan, dan saya harus lebih berhati-hati dalam memilih rekan kerja yang mampu membantu membentuk serta mengembangkan tim.
Perjalanan Karier
- Desember 2013 – Desember 2017
Saya kembali menjadi PS Axelia Jakarta di bawah supervisi Mas Dede. - Desember 2017
Saya mendapat kesempatan untuk kembali mengikuti panel DSC, dan Alhamdulillah Januari 2018 saya menjadi DSC Axelia Jakarta 2. - Agustus 2018
Saya diangkat sebagai DSM (District Sales Manager).
Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini saya dibantu tim HO untuk memilih PS. Saat itu tim saya terdiri dari Davit, Supri, dan Ryan — dua di antaranya merupakan alumni logistik yang sangat membantu pembentukan Tim Jakarta 2.
Perubahan Tim & Prestasi
Seiring waktu, terjadi beberapa perubahan anggota tim:
- Tahun pertama sebagai DSM, Ryan mengundurkan diri untuk membantu ibunya, digantikan oleh Mei.
Dengan formasi ini, kami meraih predikat THE BEST DSM 2019, dan saya mendapatkan reward perjalanan ke Amerika. - Setelah itu, terjadi pergantian kembali:
Mei → Rachel → Ryo
Davit pindah ke Semarang → digantikan Eko
Pertengahan 2023 saya merekrut Ai Santika untuk tim CMF.
Saat ini tim saya kembali terdiri dari 4 PS.
Kembali ke Topik Utama
Sebagai seorang leader, kita harus siap menghadapi setiap perubahan — baik internal maupun eksternal. Kita juga harus bisa menyamakan persepsi dengan tim, menyatukan tujuan, serta membangun komunikasi yang sehat.
Tidak mudah menyatukan pola pikir setiap PS, tetapi dengan diskusi bersama — saat morning session, koordinasi tim, atau bahkan saat makan bersama — kesepakatan bisa ditemukan.
Sebagai leader, kita juga perlu mengenal hobi dan karakter PS, berusaha membaur, dan menjaga hubungan kekeluargaan. Kebetulan tim kami sama-sama menyukai traveling, dan kami memiliki uang kas tim yang biasa digunakan untuk aktivitas heart to heart, membahas pekerjaan maupun hal personal.
Budaya Kerja & Challenge
Setiap tahun saya memberi challenge kepada PS.
Contohnya: siapa yang pertama mendapat tender Rp1 miliar, mendapat reward dari saya.
Untuk target pribadi, saya ingin seluruh PS bisa ikut trip, dan bila ada PS yang menjadi The Best, itu adalah bonus bagi tim.
Berikut beberapa pencapaian tim kami:
- Bambang – The Best DSM 2019
- Eko – The Best PS Acumed 2023
- Eko – The Best PS SBO 2024
- Supri – The Best PS CMF 2024
Rutinitas Sebagai Leader
- Meeting action plan mingguan
- Laporan aktivitas harian di grup WhatsApp cabang
- Membuat forecast untuk PPG (Product Planning Group)
- Melakukan aktivitas (demo, PP/Presentasi Produk, RT/Round Table) dan melakukan review
- Update progres PCL (Potential Customer List) setiap 2 minggu
- Review sales bulanan
- Meeting koordinasi dengan PPG
- JV (Joint Visit) dengan PS minimal 2x per minggu
- Admin day setiap awal bulan
Tantangan dalam Membimbing PS
Ada PS yang awalnya sulit diarahkan — diminta mengerjakan rumah sakit swasta tidak dikerjakan, diminta demo alat pun belum berjalan. Sampai akhirnya ia merasakan sendiri bahwa sales dari RS swasta sangat membantu pencapaiannya. Akhirnya ia memahami pentingnya instruksi tersebut.
Ada juga PS yang sebelumnya menjadi SPV (Supervisor) di perusahaan lain. Awalnya saya kesulitan menentukan pendekatan, namun setelah sering berdiskusi tentang pengalamannya, hubungan kami lebih terbuka dan akhirnya saya memahami cara memimpinnya. Membangun trust memang butuh proses.
Saya sendiri pernah kesulitan mengerjakan tender di RS Mayapada, Siloam, dan Hermina. Sudah meminta user mengajukan instrumen, sudah demo, sudah entertain, namun hasilnya belum muncul. Sampai akhirnya saya berdiskusi dengan Kang Yanuar yang berhasil menembus tender di Osteopower dan M4. Dari beliau saya mendapat arahan untuk menemui Bu Nufus, bagian pengadaan untuk seluruh Mayapada Indonesia.
Perlahan-lahan jalan mulai terbuka, dan InsyaAllah tahun ini kami berpeluang mendapatkan tender Osteopower di Mayapada Lebak Bulus.
Dari pengalaman ini saya belajar:
Sebagus apa pun usaha kita, jika belum bertemu orang yang tepat, hasilnya belum tentu muncul.
Dan kembali lagi, kuncinya adalah komunikasi.
Demikian sharing saya malam ini. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi motivasi bagi rekan-rekan semua. Mohon maaf apabila pembahasan terlalu panjang. Terima kasih atas perhatian dan kesempatannya.