Sharing Session

Transformasi Membangun Kepercayaan Diri PS Menjadi Tangguh

20 Feb 2025
Arthur Christian Arthur Christian

Materi

Assalamualaikum, selamat malam rekan–rekan PHI semua.

Terima kasih kepada Teteh, Mbak Endah, Pak Deky atas kesempatan yang diberikan.

Malam ini saya akan berbagi pengalaman terkait perjalanan saya sebagai leader dengan tema “Membangun Kepercayaan Diri PS Menjadi Tangguh.”

Saya bergabung dengan PHI sejak November 2015 sebagai PS Allied Jakarta. Kemudian, pada tahun 2017–2018 saya mendapat kesempatan untuk membuka area baru di Bali–Lombok. Setelah area tersebut berkembang dan mendapat penerus, saya kembali ke Jakarta dan memegang area Tangerang–Banten hingga akhirnya dipercaya menjadi leader di Jakarta untuk membantu senior sekaligus guru saya di Allied, yaitu Mas Edi, yang saat itu menjabat sebagai leader Jakarta.

Berpindah–pindah area memberikan banyak pelajaran bagi saya. Salah satunya, pengalaman di Bali–Lombok membuat saya terbiasa mandiri dan mampu mengambil keputusan lebih cepat, tentunya tetap dalam bimbingan NSM dan GBM. Pengalaman ini saya terapkan saat kembali ke Jakarta. Awalnya cukup menantang, karena di tim saya termasuk yang paling junior, namun saya harus mengayomi rekan–rekan yang lebih senior.

Kebetulan, di tim Jakarta tidak ada anggota yang berlatar belakang farmasi atau dunia kesehatan—termasuk saya. Namun, dengan niat untuk belajar dan berkembang bersama, tim Jakarta bisa solid hingga sekarang, dengan turnover yang hampir tidak ada.

Menurut saya, strategi untuk membangun kepercayaan diri PS di tim saya adalah sebagai berikut:

 

Strategi Pengembangan Kepercayaan Diri PS

  1. Memperbanyak demo, presentasi produk, dan pendampingan operasi di RS

Tujuannya agar tim cepat menguasai produk dan lebih percaya diri melakukan demo maupun pendampingan secara mandiri ketika marketing tidak dapat hadir.

  1. Memberikan kesempatan presentasi dalam meeting bulanan

Setiap PS mempresentasikan PCL & Forecast masing–masing, serta menyampaikan kendala di area. Ini sekaligus melatih kemampuan presentasi dan mengurangi rasa gugup.

  1. Mendorong diskusi dan problem solving antar-PS

PS lain diberi ruang untuk memberikan pandangan serta saran terhadap masalah yang dihadapi rekan satu tim.

  1. Melibatkan PS menjadi PIC pada event/workshop

Setiap event, PS ditunjuk secara bergiliran menjadi ketua atau penanggung jawab sebagai latihan memimpin dalam skala kecil.

  1. Joint Visit bersama tim marketing dan memberikan kesempatan PS berbicara langsung dengan customer

Misalnya saat bertemu direktur, saya beri kesempatan PS untuk memimpin percakapan. Saya hanya membantu meluruskan bila diperlukan.

  1. Melakukan brainstorming dan team building di luar pekerjaan

Selain mempererat solidaritas, kegiatan ini membantu tim berdiskusi lebih terbuka mengenai pekerjaan dan tantangan masing–masing.

 

Output / Hasil yang Terlihat

  • Ance

Dulunya paling lemah dalam product knowledge dan komunikasi, sekarang sudah berani mengumpulkan dokter-dokter di departemen dan membuat presentasi mandiri di Lampung. Luar biasa, Bu Kabid Ance!

  • Dwi

Yang awalnya sangat pendiam, kini sudah jauh lebih percaya diri bahkan berhasil menjadi Best PS dan Best Pusen 2024.

  • Olop

Dari yang keras kepala dan sulit dinasehati, sekarang sudah lebih dewasa, terbuka terhadap kritik dan saran. Semoga segera menyusul menikah—insentifnya sudah makin banyak.

 

  • Turnover sangat minimal, menunjukkan tim yang sehat dan solid.
  • PS berani tampil sebagai ketua event secara sukarela, serta mampu bertanggung jawab atas booth dan timnya.

 

Tantangan dan Pendekatan Saya sebagai Leader

Menjadi leader dengan usia lebih muda dari sebagian anggota tim, serta tanpa latar belakang kesehatan, tentu menjadi tantangan tersendiri. Yang saya lakukan adalah tidak memposisikan diri sebagai atasan, tetapi sebagai teman. Saya berusaha menciptakan suasana kerja yang santai namun tetap profesional, paham kapan harus tegas dan kapan harus lebih bijaksana.

Saya juga memberikan apresiasi berupa reward khusus dari DSM agar PS merasa dihargai. Saya selalu terbuka terhadap masukan dan kritik dari tim, serta berusaha menganalisis kekurangan dan kelebihan setiap individu agar bisa diarahkan berkembang lebih optimal.

Allied sebelumnya hanya mengerjakan IPSRS dan perawat. Namun kini, Allied menangani THT, Paru, Rehab Medik, Ortopedi, dan Urologi. Dengan meningkatnya product knowledge, kemampuan komunikasi, dan kepercayaan diri, PS sudah mampu mendampingi operasi sendiri tanpa pendampingan from DSM/applicant/BM—bahkan banyak yang sudah lebih mahir dari saya.

Dari yang awalnya takut, harus dipaksa untuk berani, hingga kini mampu berdiri mandiri. Kuncinya adalah: percaya diri, mau belajar, tidak takut salah, dan tidak merasa paling pintar. Jika ada kesalahan, akui dan perbaiki. Berikan dukungan moral dan kepercayaan kepada tim agar terus berkembang.

Saya pribadi sangat bangga dengan teman-teman yang sudah berjuang bersama, saling menopang dalam suka dan duka demi kemajuan tim dan perusahaan.

Demikian sharing dari saya. Jika ada masukan dari senior–senior DSM di Axelia & Allied, serta NSM dan GBM, saya sangat terbuka agar bisa belajar lebih banyak dari pengalaman sukses rekan-rekan PHI semua.

Edited by Tim IT - PHI Updated 5 days ago

QnA Sesi

Kesuksesan saya ukur tidak hanya dari sales.
Kalau PS sudah berani presentasi produk sendiri, apalagi sampai terpilih sebagai Best PS atau Best Produk, itu sudah jadi indikator bagus.
Tanda lainnya, mereka sudah bisa melawan rasa malas dan berani keluar dari zona nyaman.

Biasanya saya ajak ngobrol langsung, secara personal.
Diberi teguran & kesempatan untuk berubah dalam waktu tertentu.
Kalau tetap tidak ada perubahan, ya mau tidak mau lebih baik dikeluarkan dari tim, daripada menghambat perkembangan yang lain.

Kuncinya di penyamaan visi & misi.
Harus tahu dulu tujuan bergabung di tim ini apa.
Kalau sudah satu visi untuk upgrade diri & berkembang lebih baik, baru kita bisa lari bareng-bareng ngejar target.

Tantangan utama saya itu karena mayoritas anggota tim lebih senior usianya.

Solusinya saya coba masuk perlahan-lahan, posisikan diri sebagai teman seumuran, bukan sekadar atasan.

Biasanya juga ada anggota tim yang suka malas-malasan, kerjanya kurang semangat. Kalau sudah begitu, saya panggil secara personal, ajak ngobrol baik-baik. Kalau perlu, diberi teguran & waktu untuk berubah.

Saya selalu tekankan:

Kalau mau maju bareng, ayo belajar & fight sama-sama. Tapi kalau cuma jadi beban tim, lebih baik mencari pekerjaan lain yang lebih cocok dengan karakternya.

Untuk moral support, biasanya diawali dengan ngobrol heart to heart secara santai. Memberi semangat saat sedang down, mendengarkan keluh kesah tanpa menghakimi. Selain itu, penting juga untuk melibatkan rekan-rekan tim lain agar suasana lebih cair. Kadang ngobrol dengan sesama tim terasa lebih nyaman untuk curhat lepas & jujur dibanding langsung dengan atasan.

 Intinya, moral support itu tentang hadir, mendengar, dan memotivasi dengan pendekatan yang humanis.

Langkah pertama dimulai dari hal kecil, misalnya saat ada event, tunjuk satu orang untuk jadi ketua. Ini melatih rasa tanggung jawab terhadap teman-temannya.

Setelah itu, secara bertahap latih:

  • Communication skill (cara berkomunikasi yang baik),
  • Mental leadership (berani ambil keputusan),
  • Insting lapangan (kemampuan membaca situasi).

Kalau di lapangan menghadapi masalah, biasanya dibiarkan mencoba menyelesaikan sendiri dulu. Jika memang sudah mentok, baru diberikan bantuan & arahan. Namun tetap dengan koordinasi aktif agar proses belajarnya berjalan.

Noted

-
Kembali