Materi
Assalamualaikum, selamat malam rekan–rekan PHI semua.
Terima kasih kepada Teteh, Mbak Endah, Pak Deky atas kesempatan yang diberikan.
Malam ini saya akan berbagi pengalaman terkait perjalanan saya sebagai leader dengan tema “Membangun Kepercayaan Diri PS Menjadi Tangguh.”
Saya bergabung dengan PHI sejak November 2015 sebagai PS Allied Jakarta. Kemudian, pada tahun 2017–2018 saya mendapat kesempatan untuk membuka area baru di Bali–Lombok. Setelah area tersebut berkembang dan mendapat penerus, saya kembali ke Jakarta dan memegang area Tangerang–Banten hingga akhirnya dipercaya menjadi leader di Jakarta untuk membantu senior sekaligus guru saya di Allied, yaitu Mas Edi, yang saat itu menjabat sebagai leader Jakarta.
Berpindah–pindah area memberikan banyak pelajaran bagi saya. Salah satunya, pengalaman di Bali–Lombok membuat saya terbiasa mandiri dan mampu mengambil keputusan lebih cepat, tentunya tetap dalam bimbingan NSM dan GBM. Pengalaman ini saya terapkan saat kembali ke Jakarta. Awalnya cukup menantang, karena di tim saya termasuk yang paling junior, namun saya harus mengayomi rekan–rekan yang lebih senior.
Kebetulan, di tim Jakarta tidak ada anggota yang berlatar belakang farmasi atau dunia kesehatan—termasuk saya. Namun, dengan niat untuk belajar dan berkembang bersama, tim Jakarta bisa solid hingga sekarang, dengan turnover yang hampir tidak ada.
Menurut saya, strategi untuk membangun kepercayaan diri PS di tim saya adalah sebagai berikut:
Strategi Pengembangan Kepercayaan Diri PS
- Memperbanyak demo, presentasi produk, dan pendampingan operasi di RS
Tujuannya agar tim cepat menguasai produk dan lebih percaya diri melakukan demo maupun pendampingan secara mandiri ketika marketing tidak dapat hadir.
- Memberikan kesempatan presentasi dalam meeting bulanan
Setiap PS mempresentasikan PCL & Forecast masing–masing, serta menyampaikan kendala di area. Ini sekaligus melatih kemampuan presentasi dan mengurangi rasa gugup.
- Mendorong diskusi dan problem solving antar-PS
PS lain diberi ruang untuk memberikan pandangan serta saran terhadap masalah yang dihadapi rekan satu tim.
- Melibatkan PS menjadi PIC pada event/workshop
Setiap event, PS ditunjuk secara bergiliran menjadi ketua atau penanggung jawab sebagai latihan memimpin dalam skala kecil.
- Joint Visit bersama tim marketing dan memberikan kesempatan PS berbicara langsung dengan customer
Misalnya saat bertemu direktur, saya beri kesempatan PS untuk memimpin percakapan. Saya hanya membantu meluruskan bila diperlukan.
- Melakukan brainstorming dan team building di luar pekerjaan
Selain mempererat solidaritas, kegiatan ini membantu tim berdiskusi lebih terbuka mengenai pekerjaan dan tantangan masing–masing.
Output / Hasil yang Terlihat
- Ance
Dulunya paling lemah dalam product knowledge dan komunikasi, sekarang sudah berani mengumpulkan dokter-dokter di departemen dan membuat presentasi mandiri di Lampung. Luar biasa, Bu Kabid Ance!
- Dwi
Yang awalnya sangat pendiam, kini sudah jauh lebih percaya diri bahkan berhasil menjadi Best PS dan Best Pusen 2024.
- Olop
Dari yang keras kepala dan sulit dinasehati, sekarang sudah lebih dewasa, terbuka terhadap kritik dan saran. Semoga segera menyusul menikah—insentifnya sudah makin banyak.
- Turnover sangat minimal, menunjukkan tim yang sehat dan solid.
- PS berani tampil sebagai ketua event secara sukarela, serta mampu bertanggung jawab atas booth dan timnya.
Tantangan dan Pendekatan Saya sebagai Leader
Menjadi leader dengan usia lebih muda dari sebagian anggota tim, serta tanpa latar belakang kesehatan, tentu menjadi tantangan tersendiri. Yang saya lakukan adalah tidak memposisikan diri sebagai atasan, tetapi sebagai teman. Saya berusaha menciptakan suasana kerja yang santai namun tetap profesional, paham kapan harus tegas dan kapan harus lebih bijaksana.
Saya juga memberikan apresiasi berupa reward khusus dari DSM agar PS merasa dihargai. Saya selalu terbuka terhadap masukan dan kritik dari tim, serta berusaha menganalisis kekurangan dan kelebihan setiap individu agar bisa diarahkan berkembang lebih optimal.
Allied sebelumnya hanya mengerjakan IPSRS dan perawat. Namun kini, Allied menangani THT, Paru, Rehab Medik, Ortopedi, dan Urologi. Dengan meningkatnya product knowledge, kemampuan komunikasi, dan kepercayaan diri, PS sudah mampu mendampingi operasi sendiri tanpa pendampingan from DSM/applicant/BM—bahkan banyak yang sudah lebih mahir dari saya.
Dari yang awalnya takut, harus dipaksa untuk berani, hingga kini mampu berdiri mandiri. Kuncinya adalah: percaya diri, mau belajar, tidak takut salah, dan tidak merasa paling pintar. Jika ada kesalahan, akui dan perbaiki. Berikan dukungan moral dan kepercayaan kepada tim agar terus berkembang.
Saya pribadi sangat bangga dengan teman-teman yang sudah berjuang bersama, saling menopang dalam suka dan duka demi kemajuan tim dan perusahaan.
Demikian sharing dari saya. Jika ada masukan dari senior–senior DSM di Axelia & Allied, serta NSM dan GBM, saya sangat terbuka agar bisa belajar lebih banyak dari pengalaman sukses rekan-rekan PHI semua.