Sharing Session

Kerja Keras Bagaikan Kuda Yg Harus Serba Bisa Versus Gen Z

27 Feb 2025
Agus Supriyatin Agus Supriyatin

Materi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih kepada Teh, Pak Decky, Mbak Lili, dan Mbak Endah atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi pengalaman pada malam ini.

Selamat malam semuanya.

Perkenalkan, saya telah bergabung dengan keluarga besar PHI selama kurang lebih 10 tahun. Dalam perjalanan tersebut, tentu banyak hal yang telah saya lalui—tantangan, ujian, suka duka, serta berbagai pengalaman berharga lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Malam ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai “Kerja Keras Bagaikan Kuda yang Harus Serba Bisa (Palugada) Versus Gen Z.”

Menjadi PS yang serba bisa tidak dapat diperoleh secara instan. Semuanya harus melalui proses panjang di lapangan. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa setiap proses harus kita jadikan pegangan untuk berkembang—untuk menjadi lebih baik, lebih siap, dan lebih peduli terhadap berbagai situasi yang kita temui, baik secara teori maupun praktik

Beberapa poin penting untuk menjadi PS yang pekerja keras dan serba bisa antara lain:

rajin, pantang menyerah, tangguh, gigih, smart, mudah beradaptasi, yakin, dan percaya diri bahwa kita mampu. Semua poin tersebut harus berjalan selaras dan saling menguatkan satu sama lain.

Bekerja tidak cukup hanya rajin. Jika hanya rajin tanpa diimbangi ketangguhan, kegigihan, kemampuan beradaptasi, serta kecerdasan dalam mengambil langkah, maka hasilnya tidak akan optimal—baik untuk diri sendiri maupun perusahaan.

 

Alhamdulillah, selama 10 tahun ini saya selalu berusaha menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Dari proses itulah saya selalu siap menjalankan pekerjaan sebagai PS yang mampu menangani berbagai aspek, terutama ketika tim HO atau tim lain sedang tidak bisa membantu karena kesibukan di area masing-masing

Adapun pekerjaan yang sudah saya jalani selama ini antara lain:

logistik, marketing, product demo, presentasi produk, mendampingi tindakan operasi, membantu gudang, serta pekerjaan administratif seperti SPK, BAST, penagihan, hingga negosiasi kerja sama dengan manajemen atau direktur rumah sakit.

Dengan kemampuan di berbagai bidang tersebut, kita dapat menjadi PS yang fast response, mampu mengatur waktu dengan baik, serta dapat menangkap peluang sekecil apa pun ketika dibutuhkan.

Saya sendiri termasuk generasi milenial yang kini bekerja berdampingan dengan banyak rekan Gen Z. Ketika dalam satu tim terdapat Gen Z, hal pertama yang saya lakukan adalah menggali kelebihan dan kekurangan partner kerja tersebut. Setelah memahami karakteristiknya, barulah saya mulai berbagi, memberikan arahan, dan menyesuaikan cara kerja agar sesuai dengan karakter Gen Z tersebut. Tujuannya adalah menciptakan tim yang solid, berjalan selaras, mampu saling menutupi kekurangan, serta tetap bekerja sesuai SOP perusahaan. Hal terpenting adalah agar seluruh anggota tim bisa mencapai tujuan bersama, baik secara individu maupun perusahaan.

Jika terdapat rekan Gen Z yang belum sesuai harapan, maka saya lebih memilih untuk berdiskusi langsung secara baik-baik (face to face), mencari solusi bersama, demi kebaikan pribadi maupun tim, agar tidak menghambat hasil yang ingin dicapai.

Demikian sharing singkat dari saya tentang pengalaman yang saya jalani selama 10 tahun bekerja di lapangan.

Terima kasih kepada rekan-rekan semua. Semoga kita selalu sukses bersama. Aamiin.

Edited by Tim IT - PHI Updated 5 days ago

QnA Sesi

Langkah pertama adalah menenangkan hati dan pikiran agar emosi terkendali. Selanjutnya, mengedepankan rasa kekeluargaan untuk memudahkan adaptasi dengan beragam karakter rekan tim.

Manajemen waktu butuh kreativitas. Dengan memanfaatkan fasilitas digital seperti media sosial, WhatsApp, dan Telegram, kita bisa belajar dan berkomunikasi efektif tanpa harus selalu bertemu langsung. Kuncinya adalah pintar memanfaatkan waktu 24 jam dengan cerdas.

Prioritas utama tetap kerja, karena itu pondasi untuk keluarga. Komunikasi dengan keluarga sangat penting agar saling mengerti. Setelah urusan kerja selesai, waktu diluangkan untuk keluarga (jalan-jalan, quality time). Tetap fast response jika ada panggilan kerja lagi.

Yang penting yakin dulu, kuatkan mental dan sabar. Awali dengan obrolan ringan agar lebih nyambung. Kalau pendekatan halus belum berhasil, baru tingkatkan pendekatan lebih tegas.

Kalau masih belum paham, beri contoh nyata di lapangan atau lewat media sosial. Untuk jaga semangat, ingat bahwa mereka punya kelebihan yang bisa menutupi kekurangan kita.

Harus bisa merangkul dulu, bikin mereka nyaman kerja bareng. Anggap saja kita pernah di posisi mereka, penuh emosi & merasa paling jago. Kuncinya sabar & sejalan untuk capai tujuan bersama.

Awali dengan info yang menarik & menyenangkan, tapi jangan lupa jelaskan prosesnya tidak mudah. Siap bantu semampunya kalau memang sudah mentok & butuh solusi di lapangan.

Biasanya mereka masih nyaman di dunianya & cenderung emosional. Kuncinya komunikasi intens, baik langsung atau via WA. Saya selalu ingatkan: "Kalau sekarang udah oleng, kapan mau capai mimpi? Tekanan pasti berat, tapi waktu nggak nunggu."

Noted

-
Kembali