Materi
Assalamu’alaikum wr. wb.
Selamat malam teman–teman PHI semuanya, salam sejahtera untuk kita semua.
Pada sesi malam ini saya diberikan kesempatan untuk sharing experience dengan tema:
“Dari Anak Joget Menjadi Super Sales.”
Tema yang luar biasa ya gengs!
Perkenalkan, saya Marcella Adriyani Alda, biasa dipanggil Alda, PS Allied Jabar.
Saya bergabung dengan PHI pada tahun 2021, meski sebenarnya saya sudah melamar sejak 2020—sempat diinterview, tapi belum diterima oleh Mbak Endah . Dua tahun menunggu, dan akhirnya saya bisa menjadi bagian dari keluarga besar PHI. Waiting 2 years, dan saat dinyatakan diterima, I was so happy!
Awal Masuk PHI: Dari Anak Bingung ke Anak Lapangan
Ketika pertama kali diterima, saya sempat bingung harus melakukan apa. Tugas bertemu dokter, manajemen RS, membawa alat, bicara soal produk—semuanya terasa asing.
Suatu hari, saat bertemu dokter dan memperkenalkan diri dengan sangat nervous, dokter bertanya:
“Kamu bawa alat apa?”
Dan saya menjawab dengan polosnya:
“Duh dok, saya anak baru. Saya bawa ini nih… (sambil kasih brosur). Dibaca aja ya dok.”
Untung dokternya baik dan tidak memarahi 😅.
Dari situ, para senior dan DSM mulai sering mengajak saya role play. Pelan–pelan saya mulai hafal product knowledge. Saya belajar dari JV bersama DSM, memperhatikan cara mereka berbicara dengan dokter, melihat bagaimana BM melakukan demo, dan saya terapkan semuanya pada diri saya.
Perjalanan Mengubah Kebiasaan Buruk
Sebagai mantan remaja gaul yang suka main malam, bangun siang, dan sering telat ke kantor—jujur, awalnya sangat sulit untuk berubah. Setiap Senin saya sering izin karena after party. Sampai akhirnya hari yang “ditakuti” itu tiba:
Surat Cinta mendarat di meja saya.
Dan bukan SP…
Saya malah diminta print Surat Resign. 🫣🥹
Di momen itu, DSM saya, Kang Ganjar, memberikan peringatan keras, menasihati, bahkan “mendakwahi” habis–habisan 🗣️. Tapi semua itu dilakukan dengan niat baik untuk membentuk saya agar lebih dewasa dan bertanggung jawab.
Turning Point: “Saya Harus Berubah”
Setelah 2 tahun di PHI, saya tersadar:
Sampai kapan saya mau terus begini?
Sedikit demi sedikit saya mengubah mindset:
Saya harus sukses. Saya harus kaya. Dan saya bisa mendapatkannya dengan bekerja sungguh–sungguh di perusahaan ini.
Hingga akhirnya datang rezeki seperti “modal keberuntungan”:
Saya berhasil mendapatkan sales dari RSUD Bandung Kiwari dan RSHS di tahun yang sama sebesar 1,9 M dan 2 M.
Ini bukan hanya soal kemampuan menjual, tetapi tentang kesabaran, ketelitian, dan keteguhan dalam mengerjakan project tersebut.
Dari Anak Gaul Cafe ke Anak Gaul Rumah Sakit
Yang biasanya nongkrong di cafe hits Bandung, kini harus pindah nongkrong ke… cafe-nya RS. Tanpa AC, tanpa musik disco, dan penuh suara panggilan pasien. Teman nongkrongnya pun bukan lagi anak–anak seumuran, tapi bapak–bapak manajemen RS.
Belum lagi NSM yang turun langsung mengawal project ini—kontrolnya ketat, ultimatum-nya melegenda.
Ada satu kalimat NSM yang selalu saya ingat dan menjadi motivasi saya:
“Alda, kalau kamu tidak bisa follow up project ini sampai diklik, berarti kamu sudah gagal memperjuangkan masa depanmu sendiri. Mungkin kamu lebih cocok jadi dancer di Holywings.”
Oh no… oh no…
Belum cukup, ayah saya—Dady Suganjar—juga setiap hari mewanti-wanti sambil wajahnya kusut seperti baju belum disetrika:
“Ini project besar, Alda. Jangan main-main.” 🙏
Hasil Kerja Keras: Insentif Pertama yang Membuka Mata
Saat project berhasil diklik, lalu melihat nilai insentifnya…
“Duit nih, boss!”
Sejak itu saya semakin bersemangat mengejar pundi-pundi insentif dari project besar.
Point Inti dari Tema “Dari Anak Joget Menjadi Super Sales”
Setiap orang bisa berubah. Kuncinya hanya satu:
“Ada kemauan dari hati paling dalam untuk berubah.”
Tidak ada yang instan. Semua melalui proses, jatuh bangun, dan pembentukan karakter.
Terima kasih untuk:
Mbak Endah, Kang Ganjar, dan Tim Kabayan
(A Ded, A Aryo, Mbak Avi, Eva, dan Jilla)
yang sudah sabar mendidik, membimbing, dan menghadapi “kebebalan” saya selama ini.
Itulah pengalaman saya. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi motivasi untuk teman–teman semua. Terima kasih.